Penulis : Agus Yuliono
Judul : TOPENG LONCEK:
RITUAL DAN PERTUNJUKAN
BUDAYA TOPENG DAYAK KANAYATN
DI KAMPUNG LONCEK, KUBU RAYA
Ukuran : 14 x 20  cm
Halaman : 134 hlm
Tahun : 2026
Sinopsis : Berulang kali, para tetua menyebut bahwa Kampung Loncek diyakini sebagai kampung penjaga tujuh bukit. Kampung Loncek dikelilingi oleh Bukit Loncek, Bukit Tangang, Bukit Buliant, Bukit Buluh, Bukit Jahanang, Bukit Ano dan Bukit Gamok. Secara administratif, Kampung Loncek masuk dalam wilayah Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Kini di sepanjang Sungai Ambawang, budaya topeng Dayak Kanayatn yang tersisa hanya di Kampung Loncek.

Pada mulanya, topeng Loncek dihadirkan dalam ritual adat babalak (sunat kampung). Seluruh topeng Loncek yaitu topeng Buta, topeng Ganye, topeng Asu’, topeng Kara, topeng Barong, dan topeng Bela hadir dalam satu rangkaian ritus yang utuh. Setiap figur topeng menempati posisi fungsional dan simbolik dalam koreografi perlindungan, transisi tahapan kehidupan, dan peneguhan kohesi sosial. Kini, setelah babalak tidak dilaksanakan lagi, topeng Loncek menjadi bagian dari acara gawe adat panganten (acara adat pernikahan), dengan formasi topeng Kara, topeng Bela dan topeng Bini. Topeng Loncek mengalami perubahan dari praktik yang sarat ritual menuju bentuk-bentuk pertunjukan yang lebih cair dan bercorak hiburan, tanpa sepenuhnya kehilangan dimensi sakralnya.

Topeng Loncek bukan sekadar artefak kayu, melainkan simpul bertemunya material, manusia, hutan, kampung, ruh maupun leluhur dalam satu kesatuan. Beragam fungsi: ritual, pedagogis, protektif, kosmologis, institusional, hingga hiburan saling terjalin erat. Melalui topeng Loncek, masyarakat Dayak Kanayatn memproduksi, menghidupi, dan merundingkan nilai-nilai budaya mereka. Mengkaji budaya topeng Loncek perlu memahami bagaimana topeng tidak hanya “menutupi wajah” tetapi juga mengakses dan memproduksi fungsi dan makna sosial. Pandangan ini menekankan hubungan non-dual antara objek (topeng) dan praktik (performa), bukan sebagai dua entitas yang terpisah, berlawanan, atau saling berdiri sendiri, melainkan saling membentuk dan tidak dapat dipisahkan dalam proses pemaknaan budaya.

Copyrights – madanikreatif.co.id 2022

Dapatkan Update info Harga Cetak Terbaru ?

Terimakasih Sudah Berkunjung Kembali Ke Atas