Penulis : Aisyah Zahra, Amellya Fitri, Rini Aswa Riski, Wina Febriani, Andes Ananda, Aissy Putri Zulkarnaini, Ummiatul Fitri
Judul : Tambuah Ciek
Ragam Makanan Khas Minangkabau dan Cerita Dibaliknya
Ukuran : 14 x 20  cm
Halaman : 130 hlm
Tahun : 2026
Sinopsis : Minangkabau bukan sekadar nama sebuah suku atau wilayah ia adalah semesta kebudayaan yang hidup, bernafas, dan terasa paling nyata di atas meja makan. Buku Tambuah Ciek! Ragam Makanan Khas Minangkabau dan Cerita di Baliknya mengajak pembaca menyelami kekayaan kuliner Minangkabau yang jauh melampaui cita rasa semata sebuah perjalanan mendalam ke akar budaya, filosofi hidup, dan warisan leluhur yang tersimpan di setiap suapan.

            Dimulai dari fondasi sejarah kuliner Minangkabau, buku ini mengurai bagaimana falsafah agung Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK) telah membentuk karakter masakan Minang dari hulu ke hilir menjamin kehalalan, mencerminkan nilai kebersamaan, dan menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Pembaca akan memahami bagaimana kekayaan geografis Sumatera Barat, mulai dari lembah-lembah subur Luhak Nan Tigo hingga pantai berbuih Pesisir Barat dan Selatan, menjadi laboratorium alam yang melahirkan ragam kuliner paling unik di Nusantara.

            Buku ini kemudian membawa pembaca menjelajahi tiga kawasan utama kuliner Minangkabau. Di Daerah Darek jantung peradaban Minangkabau tersaji rendang legendaris dari Luhak Tanah Datar yang selama berabad-abad dimasak dengan api kecil dan kesabaran besar, Pangek Simawang dengan ikan sasau khas Danau Singkarak, Lamang Tapai yang sarat filosofi keseimbangan, hingga Nasi Kapau dari Luhak Agam yang terkenal seantero dunia, Galamai manis Payakumbuh, dan Batiah renyah yang digoreng tanpa minyak. Di Daerah Rantau dari pesisir Pariaman hingga Pasaman di utara tersaji Nasi Sek yang lahir dari semangat kesederhanaan seorang bupati, Sala Lauak bulat gurih kreasi perempuan nelayan, Sate Piaman berkunah merah membara, Randang Lokan yang membuktikan fleksibilitas budaya Minang beradaptasi dengan alam pesisir berlumpur, hingga Panggang Pacak dan Gulai Asam Durian dari bumi Pasaman yang kaya.

            Bab paling menyentuh hadir di bagian akhir: makanan dalam berbagai tradisi adat. Di sini, pembaca menyaksikan bagaimana rendang bukan sekadar lauk pesta pernikahan, melainkan simbol ketahanan rumah tangga; bagaimana Lamang Tapai dalam upacara baralek berbicara tentang kesabaran dan keharmonisan pasangan; bagaimana batiah bareh badulang dalam upacara turun mandi menjadi doa agar si anak tumbuh dermawan; dan bagaimana bahkan dalam duka kematian pun, masyarakat Minangkabau hadir bersama lewat sepiring nasi dan segelas kopi hangat sebagai wujud solidaritas yang tak ternilai.

Copyrights – madanikreatif.co.id 2022

Dapatkan Update info Harga Cetak Terbaru ?

Terimakasih Sudah Berkunjung Kembali Ke Atas