Penulis : Prof. Dr. Ir. Ar. Jefrey I. Kindangen, DEA., GP., IAI.
Judul : Arsitektur Sensorik
Ukuran : 15 x 23  cm
Halaman : 126 hlm
Tahun : 2026
Sinopsis : Buku ini berangkat dari satu pertanyaan mendasar: bagaimana arsitektur sesungguhnya dialami oleh manusia yang berdiam di dalamnya? Di tengah dominasi arsitektur visual, teknokratis, dan berbasis kinerja kuantitatif, buku ini mengajak pembaca untuk kembali memahami arsitektur sebagai pengalaman tubuh, indera, dan keberadaan, bukan semata sebagai objek yang dilihat atau mesin yang berfungsi.
Melalui pendekatan arsitektur sensorik, buku ini menempatkan tubuh manusia sebagai pusat pengalaman ruang. Panas, cahaya, suara hujan, hembusan angin, bau material, tekstur permukaan, dan perubahan waktu dibaca sebagai bahasa arsitektur yang sah dan bermakna. Arsitektur dipahami sebagai peristiwa inderawi yang bekerja pada tingkat pra-sadar, dirasakan sebelum dipikirkan, dan membentuk emosi, orientasi, serta rasa berhuni manusia.
Secara teoretis, buku ini berpijak pada tradisi fenomenologi, khususnya pemikiran Maurice Merleau-Ponty tentang tubuh sebagai subjek persepsi. Kritik terhadap dominasi visual dan reduksi indera dikembangkan melalui gagasan Juhani Pallasmaa, yang menekankan pentingnya pengalaman multisensorik dan kesadaran pra-sadar dalam arsitektur. Konsep atmosfer dan kehadiran ruang dibaca melalui pendekatan desain Peter Zumthor, sementara dimensi makna, etika, dan puisi arsitektur dirumuskan melalui pemikiran kritis Alberto Pérez-Gómez. Dinamika cahaya, gerak tubuh, dan waktu dalam pengalaman spasial diperkaya melalui karya-karya fenomenologis Steven Holl.
Keunikan buku ini terletak pada konteks tropis lembap Indonesia. Panas yang dirasakan kulit, hujan yang terdengar di atas atap, angin yang mengalir melalui bukaan, serta material lokal yang menyimpan suhu dan bau, dibahas bukan sebagai gangguan teknis, melainkan sebagai inti pengalaman berhuni. Buku ini menunjukkan bahwa arsitektur tropis tidak cukup dipahami melalui standar universal dan teknologi mekanis semata, tetapi harus dibaca melalui relasi sensorik antara tubuh, iklim, material, dan budaya.
Lebih jauh, buku ini berupaya menjembatani riset kinerja termal dan pengalaman tubuh, menunjukkan bahwa kenyamanan tidak hanya persoalan angka, tetapi juga persoalan rasa, adaptasi, dan makna. Dengan demikian, keberlanjutan dipahami bukan hanya sebagai efisiensi energi, tetapi sebagai keberlanjutan pengalaman manusia dalam jangka panjang.
Ditujukan bagi mahasiswa, dosen, peneliti, dan praktisi arsitektur, buku ini menawarkan cara berpikir dan merancang yang lebih manusiawi. Ia mengajak pembaca untuk melampaui arsitektur yang netral, dingin, dan ahistoris, menuju arsitektur yang dialami, dirasakan, dan diingat. Pada akhirnya, buku ini menegaskan kembali hakikat arsitektur: bukan sekadar apa yang terlihat indah, tetapi apa yang terasa benar bagi tubuh yang menghuninya, khususnya di wilayah tropis lembap seperti Indonesia.

Copyrights – madanikreatif.co.id 2022

Dapatkan Update info Harga Cetak Terbaru ?

Terimakasih Sudah Berkunjung Kembali Ke Atas